Senin, 12 Mei 2014

PROJECT BASED LEARNING

Langkah-langkah pembelajaran Projek (Project Based Learning)
1.      Menyiapkan pertanyaan atau penugasan proyek
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang memberikan tugas kepada siswa dalam melakukan suatu aktivitas. Mengambil topik yang sesuai dengan dunia nyata yang dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Guru berusaha agar topik yang diangkat relevan untuk siswa sesuai dengan tuntusan kompetensi yang diharapkan. Penyiapan pertanyaan dapat dilakukan di awal semester agar dapat dirancang kegiatan selanjutnya yaitu mendesain perencanaan.
2.      Mendesain perencanaan proyek
Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara guru dengan siswa sehingga siswa merasa “memiliki” proyek tersebut. Perencanaan berisi aturan main, pemilihan aktivitas pendukung untuk menjawab pertanyaan esensial dengan cara mengintegrasikan berbagai subyek yang mungkin. Serta  mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.
3.      Menyusun Jadwal
Guru dan siswa secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline untuk menyelesaikan proyek, (2) membuat deadline penyelesaian proyek, (3) membawa siswa agar merencanakan cara yang baru, (4) membimbing siswa ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan (5) meminta siswa untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara.
4.      Memonitor kegiatan dan perkembangan proyek
Guru bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas siswa selama menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara memfasilitasi siswa pada setiap proses. Dengan kata lain guru berperan menjadi mentor bagi aktivitas siswa. Agar mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang  penting.
5.      Menguji hasil
Penilaian dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing-masing siswa, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai siswa, membantu guru dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
6.      Mengevaluasi kegiatan/pengalaman
Pada akhir proses pembelajaran, guru dan siswa melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini siswa diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama menyelesaikan proyek. Guru dan siswa mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran.

Langkah-langkah penyusunan projek oleh siswa
1.      Planning; kegiatan yang dilakukan adalah a) merancang seluruh projek, kegiatan dalam langkah ini adalah: mempersiapkan projek, secara lebih rinci mencakup: pemberian informasi tujuan pembelajaran, guru menyampaikan fenomena nyata sebagai sumber masalah, pemotivasian dalam memunculkan masalah dan pembuatan proposal, b) mengorganisir pekerjaan, kegiatan dalam langkah ini adalah: merencanakan projek, secara lebih rinci mencakup: mengorganisir kerjasama, memilih topik, memilih informasi terkait projek, membuat prediksi, dan membuat desain investigasi.
2.      Creating; siswa mengembangkan gagasan-gagasan projek, mengkombinasikan ide yang muncul dalam kelompok, dan membangun projek. Tahapan kedua ini termasuk aktifitas pengembangan dan dokumentasi. Pada tahapan ini pula siswa menghasilkan suatu produk (artefak) yang nantinya akan dipresentasikan dalam kelas.
3.      Processing; meliputi presentasi projek dan evaluasi. Pada presentasi projek akan terjadi komunikasi secara aktual kreasi ataupun temuan dari investigasi kelompok, sedangkan pada tahapan evaluasi akan dilakukan refleksi terhadap hasil projek, analisis dan evaluasi dari proses-proses belajar.
4.      Reporting (membuat laporan projek)


LANGKAH LANGKAH INKUIRI

Langkah-langkah pembelajaran penemuan (Inquairy Learning)
 1.      Mengorientasikan siswa pada masalah; kegiatan guru: melakukan menginformasikan tujuan   
       pembelajaran, menciptakan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadi pertukaran ide yang terbuka,          mengarahkan pada pertanyaan atau masalah, dan mendorong siswa mengekspresikan ide-ide secara 
        terbuka
2.   Mengorganisasikan siswa untuk belajar; kegiatan guru: membantu siswa menemukan konsep berdasar masalah, mendorong keterbukaan, proses-proses demokrasi dan cara belajar siswa aktif, dan menguji pemahaman siswa atas konsep yang ditemukakan.
3.   Memandu menyelidiki secara mandiri atau kelompok; kegiatan guru: memberi kemudahan pengerjaan siswa dalam mengerjakan/menyelesaikan masalah, mendorong kerjasama dan penyelesaian tugas-tugas, mendorong dialog, diskusi dengan teman, mmbantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas belajar yang berkaitan dengan masalah, membantu siswa merumuskan hipotesis, dan membantu siswa dalam memberikan solusiKegiatan guru: memberi kemudahan pengerjaan siswa dalam mengerjakan/menyelesaikan masalah, mendorong kerjasama dan penyelesaian tugas-tugas, mendorong dialog, diskusi dengan teman, mmbantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas belajar yang berkaitan dengan masalah, membantu siswa merumuskan hipotesis, dan membantu siswa dalam memberikan solusi
4. Mengembangkan dan menyajikan hasil kerja; kegiatan guru: membimbing siswa mengerjakan lembar kegiatan siswa (LKP) dan membimbing siswa menyajikan hasil kerja.
5.   Menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah; Kegiatan guru: membantu siswa mengkaji ulang hasil pemecahan masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemcahan masalah, dan mengevaluasi materi.

LANGKAH-LANGKAH MODEL DISCOVERY LEARNING

1. Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan), siswa dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Tahap ini Guru bertanya dengan mengajukan persoalan, atau menyuruh anak didik membaca atau mendengarkan uraian yang memuat permasalahan. Stimulation pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan.

 2. Problem statement (pernyataan/identifikasi masalah), guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah). 

3. Data collection (pengumpulan data), guru memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis. Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidak hipotesis, dengan demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan, membaca literature, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya. 

4. Data processing (pengolahan data), merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Data processing disebut juga dengan pengkodean coding/kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan penegetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis. 

5. Verification (pentahkikan/pembuktian), bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. 

6. Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi), adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi. Atau tahap dimana berdasarkan hasil verifikasi tadi, anak didik belajar menarik kesimpulan atau generalisasi tertentu. Akhirnya dirumuskannya dengan kata-kata prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi.
FOTO MENARIK PEMBELAJARAN MATEMATIKA

LATAR BELAKANG BANSOS IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 SMA TAHUN 2014

WORKSHOP BANTUAN SOSIAL PENDAMPINGAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 SEKOLAH MENENGAH ATAS TAHUN 2014 TANGGAL 11 - 14 MEI 2014 DI IBIS HOTEL MANGGADUA JAKARTA. LATAR BELAKANG / DASAR HUKUM
 1.Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
 2.Undang-undang RI Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional     
    Tahun 2005-2025; 
3.Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah,    Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota; 
4.Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional     Tahun 2010; 
5.Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 1 Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja    
   Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; 
6.Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 
   Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan;
 7.Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 Tahun 2013 tentang Standar Kompetensi 
    Lulusan;
 8.Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 64 Tahun 2013 tentang Standar Isi Pendidikan 
    Dasar dan Menengah; 
9.Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses; 
10.Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian 
     Pendidikan; 
11.Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan 
     Struktur Kurikulum SMA-MA; 
12.Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 81A tentang Implementasi Kurikulum; 
 13.Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah, No. 717/D/Kep/2013, tentang Bentuk dan 
     Tata Cara Penyusunan Laporan Capaian Kompetensi Peserta Didik Sekolah Menengah Atas/Madrasah 
    Aliyah; 
14.Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (SE Mendikbud) Nomor 
     156928/MPK.A/KR/2013  Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum 2013.
PROGRAM ETA (English Teaching Assistantship) Program kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan Negara Amerika Serikat dibidang pendidikan merupakan sebuah nuansa baru dalam dunia pendidikan khususnya Belitung. Melalui program The Fulbright English Teaching Assistantship (ETA) yang disponsori oleh American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF) adalah sebuah pendekatan baru dalam teknik pengajaran bahasa Inggris yang efektif. Kehadiran The Fulbright English Teaching Assistant (ETA) ditengah era globalisasi saat ini sangatlah tepat dimana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat tentunya membutuhkan tenaga-tenaga pendidik yang terampil dan handal guna menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan peningkatan mutu pendidikan. THE FULBRIGHT ENGLISH TEACHING ASSISTANT (ETA) THROUGH AMERICAN INDONESIAN EXCHANGE FOUNDATION (AMINEF) By Jawardi, S.Pd ( ETA’s local counterpart ) A New Approach to Education in the Fulbright English Teaching Assistantship (ETA) program in the first year. This innovative international exchange program represents a new and exciting dimension of formal English language instruction throughtout Indonesia. Fulbright is recognized worldwide for its success in promoting mutual understanding and creating new generations of leaders in the countries. Educational opportunities and new initiatives and opportunities are the trademark at AMINEF. All the programs are developed and designed to not only provide premier educational opportunities, but also promote mutual understanding between the people of the Republic of Indonesia and the people of the United States of America which is the true essence of Fulbright and related programs. The English Teaching Assisttant assigned to our institution, SMA Negeri 1 Tanjungppandan, Miss Amirah Hannih Nelson from Smith College, Massachussets, U.S.A, has been specifically chosen for this program based on her intelligence, motivation, maturity and commitment to English language instruction within the context of international education.Having a great concern in the field of education and strong motivation to enhance the quality of human resources at SMA Negeri 1 Tanjungpandan, she is deeply commited herself to her duty. Miss Amirah Hannih Nelson was available to begin her ETA program in Indonesia up to one year starting on August 4, 2012. She has been in Tanjungpandan Belitung since September 2012 and began teaching at SMA Negeri 1 Tanjungpandan September 4, 2012. The first few days that Miss Amirah Hannih Nelson was on campus that she be given an orientation to her teaching and office settings as well as the surrounding community in which she now finds herself. During this period she be afforded ample time to meet her colleagues, confirm expectations and clarify work assignments. Kind assistantance during this transition period would be most appreciated and will do much to insure the effectiveness of Miss Amirah Hannih Nelson program at our school. Based on A letter of Agreement between SMA Negeri 1 Tanjungppandan and the American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF). Englsih Teaching Assisstant (ETA) is limited to 20 hours of work per week in the classroom, Monday through Friday, inclusive of meetings and other co-curricular activities that may occasionally be assigned, ETA is also expected to adhere to the normal holiday and vacation leave periods normally afforded regular teaching staff at our institution. ETA will collaborate with the English teachers to improve teaching English in class. Through this program, Miss Amirah Hannih Nelson performs her duty as a mentor in English club activities, and join other extracurricular activities that involve students and teachers.